Senin, 31 Maret 2014

Dear Media, Kami Beliebers.....

Diposting oleh Unknown di 04.43 0 komentar



Kami sudah ada saat kalian bilang Justin Bieber adalah seorang kakek tua
Saat kalian bilang Justin menghamili Fansnya
Saat kalian bilang Justin hanya artis YouTube dan tak akan bertahan lama
Dan saat kalian bilang ia sudah tak lagi menghasilkan musik yang bagus

Kami bertahan saat kalian bilang Justin memegang payudara fansnya
Saat kalian bilang Justin berpesta bersama penari telanjang
Saat kalian bilang Justin menendang bendera
Dan saat kalian bilang Justin tidur bersama pelac*r Brazil

Kami masih bersamanya saat kalian bilang Justin mendatangi rumah bordir
Saat kalian bilang Bieber Fever telah berubah menjadi Bieber Hater
Saat kalian bilang Justin adalah pengaruh yang buruk bagi para remaja
Dan saat kalian bilang Justin merorok, memakai obat-obatan, dan pergi ke Club Malam

Kami selalu ada untuknya saat kalian bilang Justin tertangkap kepolisian Miami
Saat kalian bilang Justin butuh rehabilitasi
Saat kalian bilang Justin menjalin hubungan dengan tante-tante
Dan saat kalian bilang Justin telah berubah 180 derajat

Kalian tidak akan pernah tau bagaimana rasanya melihat idola kalian jatuh di hadapan dunia
Sementara kalian tidak bisa berbuat apa-apa
Saat Justin tertekan...
Dan semua orang malah menertawakannya

Saat Justin difitnah...
Kalian membuat beritanya menjadi begitu besar
Bahkan mengubah ceritanya  menjadi lebih pelik
Dan membuat seluruh dunia menyorot Justin Bieber

TAPI!
Ada satu hal yang kalian -para Media- telah lewatkan

Dimana media saat Justin menyumbangkan pendapatan konsernya untuk korban banjir di Jepang?
Saat Justin mengunjungi Rumah Sakit untuk menghibur anak-anak yang terkena Kanker?
Saat Justin mengikuti Pencil of Promise?
Saat Justin turun tangan langsung membantu pembuatan Sekolah untuk negara-negara miskin?

Dimana media saat Justin rela keluar hotel tengah malam padahal ia sedang sakit hanya untuk menyapa Beliebersnya?
Saat Justin memberikan coklat hangat untuk fansnya yang sedang menunggui shootingnya hingga tengah malam?
Saat Justin mengunjungi rumah Beliebers yang orang tuanya meninggal?

Kami lebih mengenal Justin
Kami lebih tau Justin
Kalian..
Tolonglah bersikpa rasional sedikit

Beritakanlah apa yang seharusnya kalian beritakan
Jangan hanya mencari sensasi untuk menaikkan penonton
Tolonglah...
Jangan menjadi penjilat!

Sabtu, 29 Maret 2014

Mentari Senja Yang Terbit Kembali

Diposting oleh Unknown di 07.59 0 komentar


Lembar demi lembar kejadian itu masih terbayang jelas di benakku. Kala di malam yang seharusnya kita isi dengan setumpuk kebahagiaan, aku menodainya.

"Bisakah kita berhenti? Bisakah kita mengakhirinya saat ini juga?" ucapku pelan.
"Apa maksudmu?"

Aku segera mengalihkan pandangan ke sebelah barat, membiarkan dirimu menikmati kebingungan yang telah ku ciptakan.
Seakan bisa membaca pikiranku, perlahan kau meraih pundakku.

"Tolong lihat aku! Bagaimana mungkin dirimu tak bahagia bersamaku?" raut wajahmu kini benar-benar terlihat menyedihkan dan berhasil meluluh-lantahkan air mataku, ia begitu deras.

"Aku sudah memikirkannya, bahkan dalam lelapku sekalipun. Kita tak bisa bersama!"
"Omong kosong apa ini? Kita sudah hampir melewatinya selama satu tahun, apa yang terjadi?"
"Aku tidak mencintaimu"
"Apa?"
"Benar. Selama ini, aku tidak pernah mencintaimu"
"Lalu untuk apa...."
"Aku hanya kasihan kepadamu. Kau sudah terlalu lama mengejarku, apa salahnya jika aku menolongmu?"
"Menolong? Haha. Apakah kau sedang mabuk? Berapa banyak bir yang kau minum hingga bisa berbicara seperti ini?"

Aku terdiam. Muak rasanya mendengar semua ucapanmu.

"Ku mohon, mari kita pulang. Aku akan mengantarmu"
"Hentikan!!!!!"
"Sayang...."
"Pergilah. Tolong. Jika kau benar-benar mencintaiku. Pergilah sekarang juga"
"Baik. Aku akan pergi, tapi bisakah aku mendengar alasan yang sangat jelas untuk semua kepedihan ini?"
"Kau...apakah kau tak sadar? Sejak awal kita sudah berbeda. Jalan kita tak sama"
"Lantas, apa benar kau sama sekali tidak mencintaiku?"
"Aku...."
"Jawablah, iya atau tidak?"

Aku melihat itu. Genangan air mata yang akan jatuh hanya dengan sekali kedip, ia berada dipelupuk matamu.

"Tidak" jawabku, mantap.
"Baiklah"

Dari sini, ditempatku tersungkur lemah, aku memandang kepergianmu. Memandang bahumu yang semakin lama semakin mengecil, dan....hilang ditelan angin.


 ***


Ku pikir setelah kejadian itu kita tidak akan bisa bertemu lagi, dan ternyata takdir berkata lain.

"Halo, cintaku yang pernah kandas 10 tahun silam" sapamu hangat saat aku duduk dihadapanmu.
Aku hanya tersenyum pahit. Inikah takdir Tuhan?

"Bisa saya lihat berkas-berkas yang kamu bawa?'
Aku menyerahkan dengan sedikit gugup. Oh Tuhan, apakah kota ini benar-benar sempit?

"Baik...Cukup...Lumayan...Hmm...." aku dapat mendengarnya, bahkan hembusan nafasmu, terasa sangat dekat denganku
.
"Selamat datang di Kantor kami, semoga kita bisa bekerja sama dengan baik"
"Apa saya diterima bekerja disini?"
"Tentu saja, perusahaan mana yang akan menolak pekerja keras seperti kamu?"

Seulas senyum terukir indah diwajahmu. Senyum yang biasa menyambutku didepan kelasku, dengan seragam putih abu-abu dan berkata "Mari Tuan Putri, hamba akan mengantarkan engkau ke singgasana mu yang agung" dan aku hanya membalasnya dengan satu kecupan hangat dipipimu. Selalu. Setiap hari. Indah rasanya.

"Kamu bisa mulai beker....."

Tok...tok...tok...
Perlahan pintu terbuka, dan...

"Papa!"

Seorang anak kecil berumur sekitar 3 tahun berlari menghambur kearahmu, disusul dengan langkah anggun seorang wanita yang langsung dapat mengenaliku.

"Halo, sahabat SMA, sahabat sejatiku" sapanya, dengan senyum yang masih tersungging indah di bibir.

Oh Tuhan, bukankah bumi sekarang ini benar-benar sempit?
Sangat sakit rasanya, sungguh:")
Sangat berat rasanya mengatakan,
"Selamat atas pernikahan kalian. Aku turut berbahagia" walau dengan deraian air mata sekalipun.

Maaf, untuk waktu lelahmu yang tak pernah ku hargai:")
Sekarang ini, Tuhan sedan menghukum ku.
Jadi, berbahagialah dirimu dengannya{}

Kamis, 27 Maret 2014

JKT48 - Takeuchi Senpai (Kakak Kelasku)

Diposting oleh Unknown di 07.10 0 komentar

Dari ruang kelas 
 Memandang jendela
Menunggu mentari senja
Sendiri.. Diriku..

Kesebelesan bola,
Bila sudah gelap,
Menyelesaikan latihan
Akhirnya bertemu

Temen dekat sekalipun tak mengetahui
Yang sengaja berputar jauh
Kita berdua bersama
Pulang dari sekolah...

Love you...
Dirimu kakak kelasku
Satu tahun di atas ku
Dada ku berdebar debar,
Sambil terus bergandengan tangan

Love you...
Dirimu kakak kelasku 
 Diriku menyukaimu
Ekspresi yang malu malu,
Bagaikan lebih muda dariku
Terkenal di antara gadis di sekolah kita

Beberapa saat, 
 Setelah valentine,
Ku berikan jam tangan sebagai tanda terima kasih,

Saat pergi ke Universitas
Di Jakarta..
 Meskipun perginya masih lama,
Nanti Aku sendirian menjadi khawatir

Love you...
Dirimu kakak kelasku 
 Kakak kelas milikku saja
Di mimpipun Aku lihat hari yang membahagiakan ini

Love you...
Dirimu kakak kelasku
Senior yang ku kagumi 
 Berjalanpun di sampingmu
Inilah momen cinta pertama
Setelah kelulusan pun,
Tidak akan terlupa

Love you...
Dirimu kakak kelasku
Satu tahun di atas ku
Dada ku berdebar debar,
Sambil terus bergandengan tangan

Love you...
Dirimu kakak kelasku
Diriku menyukaimu 
 Ekspresi yang malu malu,
Bagaikan lebih muda dariku
Terkenal di antara gadis di sekolah kita  

Rabu, 26 Maret 2014

Flashback

Diposting oleh Unknown di 08.09 0 komentar


Lo pernah gak sih gitu ya punya gebetan yang udah mendekati "perfect" tapi lo sia-siain?
Nothing like him lah pokoknya. Pernah? Sama~
Jadi ceritanya gue dulu punya cemceman gitu, kk kelas sih --sebut saja dia kiper-- nah, cerita kita dimulai pas gue masih bocah, kelas 10 SMA, si doi kelas 11 SMA.
Waktu itu dia duluan yang ngechat gue di bbm, ya gue ladenin, cuma sebatas kakak-adek kelas doang awalnya. Makin lama dia makin sering ngechat, tapi ya gue gak bisa terlalu sering ngeladenin, bukan karna malas atau ogah-ogahan, tapi karna gue punya aktifitas lain selain mantengin hp waktu itu, dan jujur ajar gue "belum" terlalu excited disitu.

Lama-lama-lama, dia makin sering dan lebih sering ngechat gue, bahkan udah mulai masuk ke tahap "sms-an" dan "balas-balasan pm" juga "mentionan" di twitter. Lama-lama-lama jugaaaa, gue mulai ngerasa nyaman sama dia. Singkat cerita, gue udeh srek nih sama si doi, pokoknya udah cocok. Gue curhat deh tuh ke nyokap gue, "bu, ada kakak kelas deketin aira" kata gue. "Siapa? Anak mana? Kelas Berapa? Bla-bla-blaaa" gue ceritain dah tu dari A-Z tentang dia ke nyokap. Si nyokap no coment, gue tinggalin aja. Berarti tandanya no problem dong ya?!

Nah, pernah suatu hari dia ngantar gue pulang ke rumah pas gue abis nemenin Ita bikin video bahasa inggris. First time tuh gue duduk cuma berjarak gak sampai setengah meter sama doi. Seneng dong ya. Tapi waktu itu nyokap belum pulang, jadi gak bisa ngeliat si doi. Malemnya, gue cerita ke nyokap lagi "tadi aira diantar pulang lho" dengan nada pamer. "Oh ya?" kata nyokap, dengan nada penasaran tapi sok-sok gak mau tau. Karna nyokap masih penasaran, gue berniat kapan-kapan bawa doi kerumah lagi supaya nyokap bisa liat. Tapi, setiap kali doi kerumah buat jemput gue, nyokap selaluuuu aja sibuk atau lagi gak ada ditempat.

Gue gak nyerah buat mempertemukan nyokap sama doi, ya mau pamer dikitlah ke nyokap gimana tipe gue. Dan akhirnya tiba juga, saat-saat yang udah lama gue tunggu. Hari itu hari jum'at, gue masih inget banget. Paginya hujan, jadi kita pergi sekolah jam 9an, soalnya belum masuk masa aktif belajar, maklum abis UAS. "Bu, aira brangkat ya. Udah dijemput" gue pamit. Si nyokap penasaran nih, akhirnya dia ikut nganterin gue ke teras dan ngeliat si doi. Tapi ga seutuhnya, doi masih pake helm, tapi matanya keliatan dong~
Nahhhh, pulangnya nyokap langsung nyambut gue, "Ra, itu kakak kelas yang naksir sama kamu?" "Iya bu, gimana?" "Lumayan....ganteng....manis....kalo diliat-liat anaknya baik. Tapi.....Islam ajakan?"
JLEB! Gue langsung diem, 5 detik emudian gue masuk ke kamar.
Tentang yang nyokap terakhir kali tanyain ke gue itu......jawabannya masih gue pikirin sampe berhari-hari, dan gue akhirnya mutusin buat jujur.



"Bu, pacaran beda agama gak boleh ya?" gue nanya santai. "Nggak boleh lah, haram!!!" Gue diem lagi.. Pas mau masuk ke kamar, nyokap bilang, "Kenapa? Kakak-mu itu non?" Deg-deg-deg. Gue udah sawan banget. "Raaaa.." Gila, suara nyokap gue tiba-tiba horor gitu kedengarannya. "Iya bu" gue jawab sok anteng. "Jangan pacaran sama yang non ya, cukup berteman aja".
 

Dear Diary ... Template by Ipietoon Blogger Template | Gadget Review