Sabtu, 29 Maret 2014

Mentari Senja Yang Terbit Kembali

Diposting oleh Unknown di 07.59


Lembar demi lembar kejadian itu masih terbayang jelas di benakku. Kala di malam yang seharusnya kita isi dengan setumpuk kebahagiaan, aku menodainya.

"Bisakah kita berhenti? Bisakah kita mengakhirinya saat ini juga?" ucapku pelan.
"Apa maksudmu?"

Aku segera mengalihkan pandangan ke sebelah barat, membiarkan dirimu menikmati kebingungan yang telah ku ciptakan.
Seakan bisa membaca pikiranku, perlahan kau meraih pundakku.

"Tolong lihat aku! Bagaimana mungkin dirimu tak bahagia bersamaku?" raut wajahmu kini benar-benar terlihat menyedihkan dan berhasil meluluh-lantahkan air mataku, ia begitu deras.

"Aku sudah memikirkannya, bahkan dalam lelapku sekalipun. Kita tak bisa bersama!"
"Omong kosong apa ini? Kita sudah hampir melewatinya selama satu tahun, apa yang terjadi?"
"Aku tidak mencintaimu"
"Apa?"
"Benar. Selama ini, aku tidak pernah mencintaimu"
"Lalu untuk apa...."
"Aku hanya kasihan kepadamu. Kau sudah terlalu lama mengejarku, apa salahnya jika aku menolongmu?"
"Menolong? Haha. Apakah kau sedang mabuk? Berapa banyak bir yang kau minum hingga bisa berbicara seperti ini?"

Aku terdiam. Muak rasanya mendengar semua ucapanmu.

"Ku mohon, mari kita pulang. Aku akan mengantarmu"
"Hentikan!!!!!"
"Sayang...."
"Pergilah. Tolong. Jika kau benar-benar mencintaiku. Pergilah sekarang juga"
"Baik. Aku akan pergi, tapi bisakah aku mendengar alasan yang sangat jelas untuk semua kepedihan ini?"
"Kau...apakah kau tak sadar? Sejak awal kita sudah berbeda. Jalan kita tak sama"
"Lantas, apa benar kau sama sekali tidak mencintaiku?"
"Aku...."
"Jawablah, iya atau tidak?"

Aku melihat itu. Genangan air mata yang akan jatuh hanya dengan sekali kedip, ia berada dipelupuk matamu.

"Tidak" jawabku, mantap.
"Baiklah"

Dari sini, ditempatku tersungkur lemah, aku memandang kepergianmu. Memandang bahumu yang semakin lama semakin mengecil, dan....hilang ditelan angin.


 ***


Ku pikir setelah kejadian itu kita tidak akan bisa bertemu lagi, dan ternyata takdir berkata lain.

"Halo, cintaku yang pernah kandas 10 tahun silam" sapamu hangat saat aku duduk dihadapanmu.
Aku hanya tersenyum pahit. Inikah takdir Tuhan?

"Bisa saya lihat berkas-berkas yang kamu bawa?'
Aku menyerahkan dengan sedikit gugup. Oh Tuhan, apakah kota ini benar-benar sempit?

"Baik...Cukup...Lumayan...Hmm...." aku dapat mendengarnya, bahkan hembusan nafasmu, terasa sangat dekat denganku
.
"Selamat datang di Kantor kami, semoga kita bisa bekerja sama dengan baik"
"Apa saya diterima bekerja disini?"
"Tentu saja, perusahaan mana yang akan menolak pekerja keras seperti kamu?"

Seulas senyum terukir indah diwajahmu. Senyum yang biasa menyambutku didepan kelasku, dengan seragam putih abu-abu dan berkata "Mari Tuan Putri, hamba akan mengantarkan engkau ke singgasana mu yang agung" dan aku hanya membalasnya dengan satu kecupan hangat dipipimu. Selalu. Setiap hari. Indah rasanya.

"Kamu bisa mulai beker....."

Tok...tok...tok...
Perlahan pintu terbuka, dan...

"Papa!"

Seorang anak kecil berumur sekitar 3 tahun berlari menghambur kearahmu, disusul dengan langkah anggun seorang wanita yang langsung dapat mengenaliku.

"Halo, sahabat SMA, sahabat sejatiku" sapanya, dengan senyum yang masih tersungging indah di bibir.

Oh Tuhan, bukankah bumi sekarang ini benar-benar sempit?
Sangat sakit rasanya, sungguh:")
Sangat berat rasanya mengatakan,
"Selamat atas pernikahan kalian. Aku turut berbahagia" walau dengan deraian air mata sekalipun.

Maaf, untuk waktu lelahmu yang tak pernah ku hargai:")
Sekarang ini, Tuhan sedan menghukum ku.
Jadi, berbahagialah dirimu dengannya{}

0 komentar:

Posting Komentar

 

Dear Diary ... Template by Ipietoon Blogger Template | Gadget Review